Category: Apa Kata Biokimia (page 2 of 2)

PEMBENTUKAN CAHAYA KUNANG-KUNANG

Image_44aa55a

    Kunang-kunang, serangga yang satu ini telah diketahui memiliki keunikannya tersendiri. Yup, pendaran cahayanya di saat malam hari memang sangat cantik sehingga banyak orang yang sering menangkapnya. Tapi sekarang udah jarang banget ya nemuin kunang-kunang
    Tau gak kalian kalo Lusiferin dan Enzim Lusiferase merupakan dua komponen yang bertanggung jawab dalam pembentukan cahaya pada kunang-kunang, loh!  Pembentukan cahaya tersebut memerlukan aktivasi luciferin dengan cara melepaskan pirofosfat dari ATP sehingga terbentuk lusiferil adenilat. Senyawa tersebut ketika bertemu oksigen dan enzim lusiferase akan mengalami dekarboksilasi oksidatif hingga membentuk oksilusiferin dan juga cahaya pastinya. Kemudian, lusiferin akan mengalami regenerasi dari oksilusiferin melalui beberapa reaksi. Reaksi tersebut terjadi secara berulang kali sehingga dapat dinamakan sebagai siklus bioluminesensi.
    Warna cahaya yang dihasilkan bergantung pada jenis kunang-kunang itu sendiri yang diasumsikan karena perbedaan struktur lusiferase pada setiap spesies kunang-kunang. Mekanisme ini juga telah dilakukan pada tanaman tembakau. Tembakau disisipkan dengan gen lusiferase kunang-kunang kemudian disiram dengan nutrien yang mengandung lusiferin. Hasilnya, tembakau tersebut memendarkan cahaya dalam gelap layaknya kunang-kunang!
Let’s spread your light as fireflies do!
Penulis: Aulia Widya Rofiani
Sumber pustaka: Nelson DL, Cox MM. 2008. Lehninger Principles of Biochemistry Fifth Edition. New York (US): W. H. Freeman and Company.
Nb: Mau tulisannya diposting juga? Yuk segera baca ketentuannya di https://tinyurl.com/AKB-SOP
#AKB3
#ApaKataBiokimia
#CahayaKunangKunang
—————-
Divisi Communication and Information Center
Kabinet Fluorescence 2017
CREBs IPB
Share/Bookmark

NARKOBA: TEMBAKAU GORILA

Image_ecf291c
AKB ini ditulis oleh Moh. Asrory Nuris (Ketua CREBs 2017) lohhh
Yuk langsung aja disimak
    Akhir-akhir ini sering terdengar berita mengenai narkoba. Jenis narkoba yang sedang menjadi hot issue kali ini adalah Tembakau Super Cap Gorilla. Berdasarkan pengujian produk oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) dan BNN (Badan Narkotika Nasional), hasil uji menunjukkan adanya kandungan senyawa kimia New Psychoactive Subtances/NPS yaitu AB-CHMINACA yang termasuk jenis zat sintetis cannabinoid. Menurut penelitian Wiley et al. (2015), senyawa AB-CHMINACA dapat berikatan dan mengaktivasi reseptor CB1 atau CB2 pada sel manusia. Reseptor CB1 terletak pada otak dan sumsum tulang belakang yang bertanggung jawab atas efek psikoaktif, sedangkan reseptor CB2 utamanya berada di limfa dan sel sistem kekebalan tubuh yang dapat memediasi efek kekebalan-modulasi.
    Berdasarkan pengakuan pemakainya, penggunaan zat ini akan membuatnya kaku seperti ditindih oleh gorila selama sesaat. Efek tersebut berlanjut menjadi halusinasi dan gemetar. Efek lain yang bisa dirasakan adalah antinosisepsi, hipotermia, dan katalepsi. Pihak pemerintah yang terkait akan terus memantau dan menindaklanjuti pengawasan produk narkoba jenis baru ini.
    Narkoba jenis apapun tidak akan pernah berdampak baik pada tubuh maupun kehidupan kita. Katakan TIDAK pada NARKOBA!
Sumber: Wiley JL, Marusich JA, Lefever TW, Antonazzo KR, Wallgren MT, Cortes RA, Patel PR, Grabenauer M, Moore KN, Thomas BF. 2015. AB-CHMINACA, AB-PINACA, and FUBIMINA: Affinity and potency of novel synthetic Cannabinoids in producing Δ9-Tetrahydrocannabinol-Like effects in mice. The Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics. 354(3): 328-339.
Nb: Mau tulisannya diposting juga? Yuk segera baca ketentuannya di https://tinyurl.com/AKB-SOP
#AKB2
#ApaKataBiokimia
#TembakauGorila
—————-
Divisi Communication and Information Center
Kabinet Fluorescence 2017
CREBs IPB

OSA DAN OBESITAS PADA REMAJA

Image_902415f

Yuk simak #ApaKataBiokimia edisi pertama di Kabinet Fluorescence ini
#AKB1 ini ditulis oleh Ari Putra selaku Wakil Ketua 1 CREBs kita sekarang looh hihi
Penasaran kan mau bahas apa? Yuk langsung dibaca
    Obesitas atau kegemukan merupakan penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan yang memberi efek buruk pada kesehatan. Kondisi ini dapat dialami oleh setiap golongan umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi remaja dan dewasa merupakan kelompok yang paling sering mengalaminya.
    Obstructive sleep apnea (OSA) pertama kali di publikasikan tahun 1956 oleh Sidney Burwell. OSA pada remaja obesitas terjadi akibat penyempitan jalan napas karena penimbunan lemak yang berlebihan. Penimbunan tersebut menyebabkan disfungsi diafragma dan di dalam dinding dada yang bisa menekan paru-paru sehingga mengganggu upaya ventilasi saat tidur dan jaringan lemak pada leher dan lidah. Kemudian diameter saluran napas akan mengecil yang merupakan predisposisi terjadinya penutupan prematur saat jaringan otot relaksasi waktu tidur, sehingga timbul gangguan pernapasan dan sesak napas.
    Jumlah penderita OSA di negara maju diperkirakan mencapai 2-4% pada pria dan 1-2% pada wanita. Sayangnya, di Indonesia belum ada penelitian berskala nasional yang memperhatikan gangguan tidur fatal ini. Mengingat struktur rahang Ras Asia yang lebih sempit, dicurigai di Indonesia memiliki lebih bnyak penderita Sleep apnea.
Ayoo Hidup Sehat genkss….!
Rahman UB, Handoyo, Roadi P. 2012. Hubungan obesitas dengan risiko Obstructive sleep apnea (OSA) pada remaja. Jurnal Ilmiah Kesehatan Keperawatan. 8(1). 44-56.
Nb: Mau tulisannya diposting juga? Yuk segera baca ketentuannya di https://tinyurl.com/AKB-SOP
#ApaKataBiokimia
#OSAdanObesitas
—————-
Divisi Communication and Information Center
Kabinet Fluorescence 2017
CREBs IPB
Newer posts

© 2017 CREBs

Theme by Anders NorenUp ↑