Category: Apa Kata Biokimia (page 1 of 2)

ALERGI

Image_b1134101

Yuk tambah pengetahuanmu sambil mempersiapkan ujian. Nah AKB kali ini akan membahas tentang alergi.
Okey, mari kita simak pembahasannya.
    Alergi adalah suatu proses inflamasi yang meliputi reaksi cepat dan lambat serta inflames kronis yang kompleks, dipengruhi faktor genetik, lingkungan dan pengontrol internal. Mekanisme alergi didominasi oleh sel mastosit yang mendapat paparan dari allergen kemudian melepaskan antibody berupa IgE. Pelepasan IgE memicu degranulasi dan mengakibatkan pengeluaran histamin, leukotrien dan mediator lain dalam jumlah banyak. Dari sinilah muncul reaksi alergi. Reaksi alergi berbeda-beda, tergantung pada tempat terjadinya reaksi.
    Pada saluran cerna, akan menyebabkan peningkatan sekresi cairan dan gerak peristaltik yang berakibat terjadinya mual, muntah, dan diare. Pada saluran pernafasan, aktivasi sel mast ini menyebabkan penurunan diameter saluran nafas, dan peningkatan sekresi mukus yang berakibat produksi lender dan munculnya batuk. Di pembuluh darah, reaksi alergi menimbulkan kenaikan aliran darah dan permeabilitas. Dari perubahan ini akan didapati edema, inflamasi, dan peningkatan aliran limpa. Respon imun yang muncul dalam reaksi alergi melalui dua tahap. Tahap sensitisasi atau tahap induksi, merupakan kontak pertama, muncul ketika tubuh memproduksi antibodi IgE yang spesifik terhadap alergi tahap induksi. Tahap yang kedua adalah fase elisitasi. Fase ini terjadi jika terdapat paparan ulang dari alergen.
Penulis : Nofi Purwanti
Pustaka : Rengganis I, Hartana A, Guhardja E, Djauzi S, Budiarti Sl. 2008. Sensitivitas terhadap serbuk sari pada pasien alergi pernafasan. Majalah Kedokteran Indonesia. 58(9): 328-334.
Nb: Mau tulisannya dipostingjuga? Yuk segera baca ketentuannya di http://tinyurl.com/AKB-SOP
#AKB8
#ApaKataBiokimia
#Alergi
—————-
Divisi Communication and Information Center
Kabinet Fluorescence 2017
CREBs IPB
Share/Bookmark

EBOLA

Image_1a7176d

Mengawali pagi cerahmu, yuk disimak #AKB7 yang akan membahas tentang Ebola.
    EBOV atau lebih dikenal dengan Ebola virus merupakan patogen agresif yang menyebabkan gejala demam dengan perdarahan yang letal pada manusia dan hewan.Virus Ebola berasal dari golongan Filoviridae salah satu virion pleomorfik yang membentuk huruf U, angka 6, atau lingkaran, tetapi yang paling sering teramati ialah struktur tubular panjang.
Virus Ebola mengandung 1 molekul single-stranded dengan negative-sense RNA yang mirip dengan Paramyxoviridae. Virus Ebola dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui cairan tubuh individu ataupun hewan yang terinfeksi.
Infeksi virus Ebola dapat dikenali dengan adanya demam serta pendarahan serta kecurigaan kontak langsung dengan hewan yang diduga terinfeksi virus Ebola. Diagnosis infeksi virus Ebola dapat dilakukan dengan metode PCR dan isolasi virus dengan metode Vero cells.
    Pemeriksaan laboratorium lanjutan dilakukan dengan ELISA untuk mendeteksi antibodi spesifik IgG dan IgM Ebola.

Masa Inkubasi virus Ebola rata-rata 2-21 hari yang terbagi dalam 4 fase gejala klinis: Pertama, gejala non-spesifik seperti demam, sakit kepala, dan lemah badan. Kedua, gejala pertama yang diikuti dengan diare, nyeri perut, dan muntah. Ketiga, penderita merasa sehat dan sebagian penderita dapat selamat. Keempat, agregasi yang mana penderita dapat mengalami gangguan hemostatis berupa pendarahan pada kulit serta gangguan neuropsikiatrik seperti koma, dan syok hipovolemik. Efek akhir dari infeksi virus Ebola ialah syok yang disebabkan oleh beberapa proses yang memengaruhi satu sama lainnya, yaitu: replikasi virus sistemik, supresi sistem imun, peningkatan permeabilitas pembuluh darah, dan koagulopati.
Penulis: M. Farhan
Pustaka: Rampengan NH. 2014. Infeksi Virus Ebola. Jurnal Biomedik. 6(3): 137-140.
Nb: Mau tulisannya diposting juga? Yuk segera baca ketentuannya di http://tinyurl.com/AKB-SOP
#ApaKataBiokimia
#Ebola
—————-
Divisi Communication and Information Center
Kabinet Fluorescence 2017
CREBs IPB

ANTHRAX

Image_01d749e

Kembali lagi kami sajikan informasi seputar biokimia. #AKB6 ini akan membahas tentang Anthrax.
Yuk langsung dibaca saja :)
    Anthrax dalam bahasa Yunani adalah batu bara, karena salah satu gejala pada penderita Anthrax terdapat luka berwarna hitam seperti batu bara. Anthrax adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis, termasuk penyakit infeksius yang bersifat akut yang dapat menyerang hewan berdarah panas dan dapat menular ke manusia.
    Anthrax pada hewan ternak sudah lama dikenal di Indonesia sejak tahun 1885. Nama lain dari penyakit Anthrax adalah radang limfa, radang kura, miltbrand. Bakteri Bacillus anthracis berbentuk batang dengan ujung persegi dan tajam, berpasang-pasangan atau berantai. Bakteri tersebut bersifat aerob, tahan pembekuan cepat pada suhu -72 C, tahan asam, berkapsul, dan berspora.
    Spora anthrax terbentuk bila O2 berlebihan dan dapat bertahan di lingkungan selama bertahun-tahun. Jika bakteri sudah berubah menjadi fase spora, bakteri akan menempel pada hijauan makanan ternak (HMT) dan dari sinilah ternak terinfeksi Anthrax. Apabila spora terhirup oleh manusia, spora akan masuk ke paru-paru lalu ke sistem peredaran darah. Darah
lingkungan yang paling disukai bakteri karena kaya akan asam amino, nukleosida, dan glukosa yang dibutuhkan bakteri untuk berkembang biak. Di dalam darah, spora memperbanyak diri menjadi sel-sel bakteri.
    Sel bakteri mempunyai kapsul sehingga tidak bisa dihancurkan oleh sel kekebalan tubuh dan mampu menghasilkan racun yang bisa masuk dan meghancurkan sel kekebalan tubuh. Selain melalui udara, bakteri dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan yang terinfeksi Anthrax dan pada kulit yang mengalami luka terbuka.
Penulis: Ainul M.
Pustaka: Martindah E, Wahyuwardani S. 1998. Pola kasus anthrax pada ternak di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 3(1): 39-46.
Nb: Mau tulisannya diposting juga? Yuk segera baca ketentuannya di http://tinyurl.com/AKB-SOP
#ApaKataBiokimia
#Anthrax
—————————-
Divisi Communication and Information Center
Kabinet Fluorescence 2017
CREBs IPB

RABIES

Image_e9b6a04

Masih mengenai zoonosis, #AKB5 ini akan membahas mengenai RABIES
Yuk langsung dibaca saja
    Virus rabies merupakan virus ssRNA dan berbentuk seperti peluru. Saat ini telah dikenal 7 genotip Lyssavirus dimana genotip 1 merupakan penyebab rabies yang paling banyak di dunia. Virus menjadi tidak aktif bila berada di luar inang, terpapar sinar ultraviolet, pemanasan yang lama, pengeringan, dan sangat peka terhadap pelarut basa, seperti sabun, desinfektan, serta alkohol 70%. Reservoir utama rabies adalah anjing domestik.
    Rabies merupakan penyakit zoonosis dimana manusia terinfeksi melalui jilatan atau gigitan hewan yang terjangkit rabies. Virus rabies masuk melalui kulit yang terluka atau melalui mukosa utuh. Setelah virus rabies masuk melalui luka gigitan, maka selama 2 minggu virus akan tetap tinggal pada tempat masuk dan di dekatnya, kemudian bergerak mencapai ujung-ujung serabut syaraf posterior tanpa menunjukkan perubahan fungsinya.
    Masa inkubasi virus rabies rata-rata 1-2 bulan, bergantung jumlah virus yang masuk, berat dan luasnya kerusakan jaringan tempat gigitan, jauh dekatnya lokasi gigitan ke sistem syaraf pusat, persyarafan daerah luka gigitan dan sistem kekebalan tubuh. Pendapat lain menyatakan bahwa masa inkubasi tidak ditentukan dari jarak syaraf yang ditempuh, melainkan tergantung dari luasnya persyarafan pada tiap bagian tubuh.
    Selanjutnya virus memperbanyak diri dan menyebar luas dalam semua bagian neuron, sel-sel sistem limbik, hipotalamus, batang otak, dan sel syaraf lainnya. Dengan demikian, virus menyerang hampir tiap organ dan jaringan di dalam tubuh.
Penulis: Novita Mahiroh
Pustaka: Tanzil K. 2014. Penyakit rabies dan penatalaksanaannya. E-Journal Widya Kesehatan dan Lingkungan. 1(1) : 61-67.
Nb: Mau tulisannya diposting juga? Yuk segera baca ketentuannya di https://tinyurl.com/AKB-SOP
#AKB5
#ApaKataBiokimia
#Rabies
—————-
Divisi Communication and Information Center
Kabinet Fluorescence 2017
CREBs IPB

TOXOPLASMOSIS

Image_be571e9

Kalian tahu tidak penyakit TOXOPLASMOSIS? Tidak?
Kebetulan nih, #AKB4 ini akan membahas mengenai Toxoplasmosis
Penasaran? Yuk langsung baca aja.
    Toxoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit obligat intraseluler Toxoplasma gondii. Penyebarannya meluas pada mamalia terutama pada kucing, tikus, dan domba serta beberapa kelompok burung. Penularan antarmanusia sejauh ini hanya terjadi antara ibu dan janin. Penyakit ini awalnya dipercaya hanya menginfeksi inang dengan imunitas tubuh rendah, namun beberapa kasus menunjukkan bahwa variasi patogenitas parasit ini mampu menyerang inang dengan imunokompeten sekalipun. Protozoa ini juga mampu menginfeksi sel berinti termasuk sel imun yaitu makrofag.
    Toxo memperbanyak diri dalam usus manusia membentuk takizoit yang selanjutnya menginvasi sel dan organ tubuh lain melalui saluran limfa. Kecepatan menginvasi sel target termasuk hati dan paru-paru diperkirakan sekitar 15-30 detik, jauh melebihi kecepatan fagositosis selama 2-4 menit. Infeksi ini dapat menimbulkan gangguan saluran getah bening, keguguran, kelahiran cacat pada janin, serta kerusakan syaraf otak.
    Pencegahan Toxo dapat dimulai dengan menjalani pola hidup yang higienis. Konsumsi nutrisi seimbang serta makanan probiotik semacam yoghurt dan olahan fermentasi lain juga berperan dalam mengurangi laju pertumbuhan toxo dalam usus sebelum invasi dalam saluran limfa dan organ lain terjadi
So, buat kamu para pecinta kucing jangan khawatir untuk terinfeksi Toxo ini ya. Selama kamu selalu menjaga kebersihan lingkungan & kucing kamu tentunya
Penulis: Danty Oktiana P
Pustaka: Iskandar T. 2008. Penyakit toksoplasmosis pada kambing dan domba di Jawa. Wartazoa. 18(3): 157-166.
Nb: Mau tulisannya diposting juga? Yuk segera baca ketentuannya di https://tinyurl.com/AKB-SOP
#ApaKataBiokimia
#Toxoplasmosis
———————————————–
Divisi Communication and Information Center
Kabinet Fluorescence 2017
CREBs IPB
Older posts

© 2017 CREBs

Theme by Anders NorenUp ↑